Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Menunggu Biker Sejati


Aku anak paling besar dari 4 bersaudara. Aku butuh biker yang setia menemani saat aku riding membelah jalanan Jakarta yang langganan macet.

Maklum, kegiatanku sehari-hari di dunia entertain padat. Kalau mengandalkan mobil, wah, pasti pekerjaanku bakal sering terganggu. Macet, bo!

Tapi sayang, sampai saat ini aku belum menemukan biker yang cocok. Kubayangkan duduk di atas jok motor, sambil memeluk pinggang dan menyandarkan kepala selama riding di jalan. Sedikit melepas lelah sambil menuju lokasi selanjutnya.

Kalaupun jadi lady biker, tentunya aku nggak berani sendiri. Nanti kalau motor mogok bagimana? Makanya butuh teman yang duduk di boncengan.

Selama belum ketemu biker yang handal mengajakku meliuk mantap di jalanan Jakarta, aku bakal selalu ditemani mama yang setia duduk di jok belakang Honda BeAT ku ini.

Penulis/Foto : Tining/David

JALAN KE KOTA TUA


Cindy, gadis kelahiran Manado, 20 tahun lalu ini sebetulnya suka naik motor. Menurutnya jauh lebih seru. Tapi itu kalau di Manado. Sambil menikmati pemandangan asri," ungkap Cindy manja.

Tapi begitu ditawari naik motor di Jakarta, pemiliki tinggi-berat 162/41 kg ini langsung nolak. "Nggak akh. Terlalu ngeri kalau naik motor di lalu lintas Jakarta.

Pengendara mesti punya nyali gede buat selap-selip di antara kendaraan lain," katanya macam pengamat lalu lintas. "Ketimbang naik motor, mending sekalian naik sepeda onthel. Nggak ada polusi," tambah penyuka Mio ini.

Untuk itu penggemar nasi goreng ini lebih suka menyalurkannya dengan jalan-jalan ke kota tua Jakarta. Sambil melepas kerinduan dengan kampung halaman, jalan-jalan di kota tua pakai sepeda onthel.

"Dengan sewa Rp 30.000, pada Minggu pagi sudah bisa menikmati peninggalan sejarah sambil olah raga. Lumayan berkeringat, juga bisa belajar mengetahui suasana maritim masa lalu. Asyik lho," lirihnya rada ngajak.

Penulis/Foto : Tining/Herry Axl

Kamis, 17 Juni 2010

Gak Terlupakan


Sebenarnya kejadian nyusruk dari motor, banyak orang pernah mengalaminya. Tapi buat kelahiran Medan, 31 Juli 1985 ini, kejadian itu bikin trauma.

Penggemar Spagheti ini mengisahkan pengalamannya waktu duduk di sekolah menengah. Ceritanya lagi jalan bareng teman naik motor. Di tengah perjalan, eh ketemu kondisi jalan yang hancur.

"Posisi jalan nanjak tajam dan juga rada berkelok. Sebenarnya sudah pelan. Tapi karena rombongan, motor kesenggol dan nggak bisa menguasai keseimbangan," kisah pemilik dada 34 B ini.

Untung pelan. Jadi lukanya karena gesekan sama batu jadi tidak terlalu parah. "Cuma kaki dan tangan bengkak. Untung nggak sampai patah tulang," syukurnya.

Karena kejadian itu penggemar Harley-Davidson ini kapok diajak jalan naik motor. "Tapi tergantung yang bawanya," kekeh pemilik tinggi 165 cm, berat 45 kg ini.

Nggak takut jatuh lagi? "Kalo naik motor gede tuh keamanannya pasti lebih. Nggak cuma motornya, tapi perlengkapan buat pengendara komplet," sahut Sofi.

Penulis/Foto : Tining/David

EGOIS



Kalimat lumayan tajam terucap dari bibir seksi cewek kelahiran Jakarta 23 tahun lalu ini. Katanya, pengendara di jalanan Jakarta sudah makin egois! “Iya sekarang banyak pengendara nggak tahu aturan,” sebut pemilik tubuh tinggi semampai ini.

Padahal, berbagai upaya telah dilakukan pihak pemerintah seperti pemberlakuan Undang Undang baru soal Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Seperti nyala lampu di siang hari dan wajib helm SNI bagi pengendara juga pembonceng.

“Contoh penggunaan helm. Masih banyak yang cuma sekadar nemplok saja. Bahkan saya sering melihat tanpa di kunci,” jelas cewek yang menoleh disapa Putri ini.

Tidak sedikit biker memilih jalur kanan saat berkendara. Menurut Putri yang berdomisili di Jakarta Barat ini jika dibiarkan begitu terus malah bikin celaka pengendara itu sendiri. Betul! Jalur kanan kan khusus buat roda empat. Untuk motor, ya di jalur kiri.

Ingat, kiri lebih safety!

Penulis/Foto : Hend/David

Curi Curi Cium!



Nama kompletnya Stefanie Frastica. Satu pesan aja buat yang pengin
boncengin cewek penggemar mini dress yang emang suka
dibonceng ini.

Kalau sudah di belakang, pemilik dada 34 B ini suka iseng yang rada membahayakan gitu. "Seru kalau naik motor sambil curi-curi ciuman. Tentunya sama pacar. Ada tantangan tersendiri," bisik cewek nengok dipanggil Fanny ini.

Sambil malu-malu, kelahiran 10 Oktober ini mengakui menikmati tantangannya. Nervousnya lebih banyak. Soalnya takut ada yang lihat," jujur cewek merasa paling suka kalau diboncengnya naik Vespa.

Bahaya! Bisa-bisa bukan hanya nyosor cowok tercintanya itu. Tapi juga nyosor kendaraan lain hingga akhirnya mencium panasnya aspal. Gedubraks! "Iya, pernah lo nyerempet orang, dimaki-maki terus akhirnya nyusruk ke parit," kekeh pemilik tinggi-berat 165 cm-48 kg.

Tetep gak ada kapoknya. Sampai sekarang, Fanny tetap tidak takut untuk bisa kembali curi-curi kesempatan seperti itu lagi. Tentunya tetap di atas motor.

Mmmm....

Penulis/Foto : Tining/Boyo

Aman Naik Skubek


Berkendara sendiri di keseharian sudah jadi aktivitas cewek kelahiran Jakarta 23 tahun lalu ini. Ia mengaku, sewaktu masih sekolah dulu, sudah naik motor ke sekolah. “Lebih simpel,” katanya mantaf.

Namanya berkendara tentu ada aja kejadian yang tidak mengenakkan. Corry mengaku pernah mengalami kecelakaan. “Waktu itu lagi naik motor di tengah lapangan sekolah. Tiba-tiba motornya nyungsep,” jelas pemilik bodi 165 cm/ 56 kg ini.

Dari analisisnya, ia melakukan teknik hard braking alias rem mendadak saat itu. “Sehingga keseimbanganku hilang. Asli, diketawain satu sekolah,” lanjut Corry.

Soal penggunaan rem ini, menurutnya penting diketahui oleh pengendara wanita. Terutama untuk motor berpenggerak otomatis. “Sangat riskan kalau rem mendadak pakai skubek. Maklum, diameter rodanya kecil,” papar cewek yang juga pengguna motor berpenggerak otomatis ini. Bah!

Penulis/Foto : Hend/David